Guest

Senin, 26 November 2012

Layakkah Kita Dicintai?


Assalamualaikum....

Pagi ini saya akan berbagi tulisan Bunda saya tadi malam, tentang kelayakan dicintai. Beliau adalah seorang Ibu yang sangat luar biasa. Mungkin dilain waktu sata akan membahas banyak tentang Beliau, untuk saat ini cukup tulisan Beliau saja yang akan saya tampilkan. Berikut ini adalah foto Beliau, Ibunda Sri Sukmawati :) :* Selamat Membaca....





Marilah kita bertanya pada diri sendiri pada hari ini, sejenak saja, tentang sebuah lambang keberartian dan makna hidup yang sangat mendalam: kelayakan untuk dicintai. Maka, layakkah kita untuk dicintai?
Layak dicintai adalah lambang keberartian. Sebab cinta tidak dipersembahkan untuk padang jiwa yang hampa. Tidak juga untuk karya-karya yang tidak bermakna. Hanya bila kita berguna, maka kita layak untuk dicintai. Hidup tidak akan memberikan ruang untuk orang-orang yang kikir, yang hanya bisa merusak dan tidak pernah bisa membangun. Yang hanya pandai mengkhianati, menyakiti dan tak pernah berdaya untuk merajut kembali. Yang hatinya beku dan tak pernah mengilhami. Hanya bila kita berarti, maka kita layak untuk dicintai.
Kelayakan untuk dicintai adalah definisi dari sebuah kapasitas diri. Kapasitas yang diukur dari sejauh mana kita memiliki harga. Dalam wujud amal nyata dan peran-peran yang berbukti. Bukan status, apalagi hanya sekedar hiasan performa dan pulasan kepalsuan. Nilai umum dari orang yang layak untuk dicintai, adalah kemanfaatan dirinya bagi kehidupan, bagi sesama, dan bagi keberlangsungan hidup diri dan orang lain.
Beriman, berdaya guna, taat dan kemudian memberi manfaat untuk kehidupan sesama. Maka sebaik-baik orang mukmin adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi orang lain. Karenanya kelayakan dicintai pada dimensi yang paling mendalam adalah kemampuan seorang manusia untuk bisa mengerti apa yang seharusnya dilakukan sebagai seorang hamba yang diciptakan Allah di muka bumi ini. yang kelak akan mati, lalu dimintai pertanggung jawaban. Maka ia akan memburu cinta-Nya, agar layak dicintai. Pada perburuan cinta itu lantas berhamburan amal-amal dan kebaikannya, untuk orang-orang disekitarnya. Maka profesi dan status tak kuasa membendung aliran kebaikan-kebaikan itu. Sebab profesi dan status hanya lorong-lorong tempat orang-orang yang layak dicintai itu mengalirkan kebaikannya.
Ada beberapa sebab, mengapa seseorang layak untuk dicintai.
  1. Layak dicintai karena kepentingan regenerasi.
Allah SwT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa diantara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang-orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui,” (QS. Al-Maidah 54)
Ayat di atas menjelaskan tentang fungsi generasi pengganti. Pergantian generasi ini bisa terjadi secara berkelompok, maupun secara orang per orang. Yang pasti, apad akhir ayat disebutkan bahwa ini adalah karunia. Maka memutuskan untuk menjadi generasi pengganti, adalah pilihan luar biasa, untuk menjadi orang yang layak dicintai.
   
2. Layak dicintai karena memburu cinta abadi.
    Cinta abadi adalah cinta ilahi. Cinta Allah SwT. Maka orang-orang yang memburu cinta abadi itu adalah orang yang layak dicintai. Orang-orang yang memburu cinta Tuhan-nya, kasih Rabb-nya, akan sabar menjalani perintah-Nya, tegar menjauhi larangan-Nya dan memancarkan cinta pula bagi sesama. Mereka orang-orang yang layak dicintai. Sebab cinta mereka pada Allah SwT akan memantulkan manfaat sosial bagi sesama manusia, dan akan mendorongnya untuk banyak beramal shalih.  

    3. Layak dicintai karena kesetiaan peneladanan.
      Peneladanan dalam hal ini adalah meneladani Rasulullah saw. Pasangan dari cinta abadi kepada Allah. Karenanya Allah menegaskan, bila kita memang mencintai Allah, kita diperintahkan untuk mengikuti Rasul-Nya. Cinta peneladanan untuk Rasul terkasih adalah kewajiban, maka mencintai orang-orang yang mencintai Rasulullah adalah kekuatan tambahan untuk mencintai Rasul itu sendiri.  

      4. Layak dicintai karena melakukan lompatan perubahan.
        Lompatan perubahan disini adalah lompatan pertaubatan. Orang-orang yang bergelimang dosa, bila kemudian melakukan lompatan berani meninggalkan kubangan dosa itu, lantas hidup dalam naungan Islam, mereka adalah orang-orang yang layak dicintai.  

        5. Layak dicintai karena menjadi perekat kebersamaan.
          Orang-orang yang mampu menjadi perekat kebersamaan akan selalu dirindukan sepanjang masa. Sebab, dia bisa merajut kebersamaan, menyelesaikan perseteruan, dan mengharmoniskan gelisah perbedaan. Bila di antara kita ada bakat memilih jalan ini, jalanilah dengan sepenuh hati. Ini adalah karunia, bakat yang tidak diberikan Allah kpd semua orang. Bahkan pilihan ini dengan jelas disebut Rasulullah sebagai pilihan orang-orang yang akan dicintainya. “Sesungguhnya orang yang paling aku cintai adalah orang-orang yang paling baik akhlaknya yaitu orang-orang yang tawadhu’, yang mencintai dan dicintai. Dan sesungguhnya orang yang aku benci ialah orang-orang yang suka berjalan dengan selalu mengadu domba dan memfitnah di antara orang-orang yang saling mencintai, yang selalu mencari-cari kesalahan dan cacat orang lain.” (HR. Tirmidzi)
          Demikianlah, ada banyak jalan untuk menjadi berguna lalu mendapat cinta. Semua butuh perjuangan. Pada pilihan-pilihan di atas, semoga kita bisa menjalaninya. Sebab, apalah arti hidup, bila tak layak dicinta...... 
          (diambil dari majalah Tarbawi nomer ...... ) 



          Tidak ada komentar: